SURABAYA – Lima puluh anggota Laskar Cokrokertopati Archery (LCA) meramaikan Kejuaraan Ar-Rimayah #2 Indoor di City of Tomorrow (CITO), Surabaya, pada 24–25 Oktober 2026. Di tengah persaingan 580 peserta dari 151 klub, kontingen LCA hadir dengan 39 pemanah dan 11 official yang terdiri atas orang tua pendamping. Ada perjuangan menembus babak final, pengalaman berburu target bergambar binatang, hingga penampilan bernuansa budaya Jawa yang mencuri perhatian. Dua hari kompetisi ini membuktikan bahwa panahan tradisional punya banyak cerita menarik, bahkan ketika arena lomba berada di dalam pusat perbelanjaan.

LCA Turunkan 50 Anggota, Kontingen Terbanyak di Arena
Kejuaraan yang diselenggarakan Fespati Kabupaten Sidoarjo ini terbagi menjadi dua hari perlombaan. Sabtu, 24 Oktober, menjadi giliran kategori Ground perorangan untuk U9, U12, dan U18. Minggu, 25 Oktober, giliran kategori Hunting beregu tiga orang untuk kelompok putra dan putri U9, U12, serta U18.
Kompetisi berlangsung melalui tiga tahap, yakni babak kualifikasi yang diikuti seluruh peserta, babak 32 besar, dan babak 16 besar. Setiap tahap menjadi ujian konsentrasi sekaligus kesempatan mengukur hasil latihan.
LCA mengirimkan kontingen sebanyak 50 orang, termasuk 11 official dari kalangan orang tua. Jumlah ini menjadikan LCA sebagai klub dengan kontingen terbanyak pada kejuaraan tersebut. Dukungan keluarga pun menjadi bagian penting dari perjalanan para atlet muda selama dua hari perlombaan.
Arena di dalam mal memberi keuntungan karena peserta terhindar dari paparan langsung terik matahari. Namun, suasana tetap terasa panas. Kepadatan peserta dan pendingin ruangan yang tampaknya bekerja kurang maksimal membuat para atlet harus pandai menjaga stamina.

Viona NA Tembus Babak 16 Besar, Ada Ujian Mental di Final
Pada hari pertama, Viona NA menjadi satu-satunya atlet LCA yang berhasil mencapai babak 16 besar pada kategori U9 putri. Perjalanannya menuju tahap tersebut menghadirkan tantangan teknis yang ikut memengaruhi konsentrasi.
Pak Vigik, ayah Viona, menceritakan bahwa kerudung yang dikenakan putrinya sempat tersangkut pada anak panah. Insiden ini membuat hasil pada rambahan pertama kurang maksimal dan sempat memengaruhi mental Viona. Namun, pada rambahan kedua, ia berusaha memperbaiki nilai meski hasil akhirnya belum sesuai harapan.
Kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga tentang kesiapan perlengkapan, ketenangan, dan kemampuan bangkit setelah menghadapi situasi di luar perkiraan. Dalam olahraga, tantangan kadang muncul dari hal kecil yang luput dari perhatian. Karena itu, persiapan teknis dan mental sama pentingnya dengan ketepatan bidikan.
Selain Viona, beberapa atlet LCA berhasil mencapai babak 32 besar atau semifinal. Mereka adalah Elvano PA (U9 putra), Nadia KP (U9 putri), M. Azka Nararya S (U12 putra), Syafira AR dan Nabilah QI (U12 putri), serta Laras Ayu H (U18 putri).

Hari Kedua: Hunting, Target Binatang, dan Pengalaman Baru
Minggu menjadi kesempatan bagi peserta kategori Hunting beregu. Berbeda dari kategori Ground, peserta membidik target bergambar binatang dengan posisi sasaran yang tak biasa mereka hadapi dalam latihan sehari-hari.
Omar, ikut kategori U18, yang khusus mengikuti kategori Hunting beregu, menyebut tantangannya sebagai sesuatu yang “challenging”. Ketika ditanya tentang kejadian menarik, ia menjawab bahwa anak panahnya sampai mengenai tembok. Pengalaman tersebut menjadi cerita tersendiri sekaligus pengingat bahwa setiap arena memiliki karakter dan tantangan yang perlu dipahami.
Zayyan juga turun khusus di kategori Hunting U12. Meski regunya belum meraih kemenangan, ia menjadi satu-satunya atlet LCA yang berhasil memperoleh hadiah challenge. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pengalaman kompetisi tetap bisa menghadirkan kejutan dan kebanggaan tersendiri.

Lascopas U9 Tampil Beda dengan Jarik dan Lurik
Satu pemandangan menarik datang dari regu Lascopas U9 yang diperkuat Viona NA, Danish AK, dan Nadia KP. Mereka tampil berbeda dengan mengenakan jarik batik. Dua anggota putrinya, Viona dan Nadia, bahkan memakai busana lurik khas Jawa yang khusus dibeli untuk perlombaan ini.
Penampilan tersebut memberi sentuhan budaya yang selaras dengan semangat panahan tradisional. Di tengah persaingan mengejar skor, mereka juga memperlihatkan bahwa identitas budaya bisa hadir melalui cara berpakaian dan kebersamaan tim.

Ar-Rimayah #2 Indoor menjadi ruang belajar bagi atlet muda LCA, mulai dari menjaga fokus, menghadapi tekanan, mencoba kategori baru, hingga menjunjung kekompakan. Hasil pertandingan menjadi bahan evaluasi, sedangkan pengalaman dan persahabatan menjadi bekal untuk perjalanan berikutnya. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan sahabat Anda agar semakin banyak orang mengenal klub panahan Surabaya, klub panahan tradisional Surabaya, serta manfaat parenting memanah dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Para Pemanah LCA
Ground Perorangan:
U9 Putra
Elvano PA
Defa GA
Danish
U9 Putri
Viona NA
Nadia KP
Adawiyah ZK
Nabila KP
Zayyana Z
U12 Putra
M Azka Nararya S
Atharazka MS
Daniel MH
Ikhwan Zahir P
M Farrel AF
Yuta IS
Kalle AL
U12 Putri
Syafira AR 27 – 19
Nabilah QI 32 – 22
Kimmi VAM 34
Annisa NH 49
U18 Putra
Banyu Sukmmo W 34
U18 Putri
Laras Ayu H 29 – 30
Hunting Beregu U18:
Hunter Of Lascopas: Banyu S, L Yusuf, Omar BS
Lascopas Lovers: R Hana M, Realyta AAZ, Irene A
Hunting U12:
DAZ: Daniel MH, Atharazka MS, Ikhwan Zahir P
Lascopas Squad: Zayyan Z, Sabrang EA, Beryl RA
Ma Ni Ki: Aliqa YS, R Nailah A, Kimmi VAM
Hunting U9:
Lascopas Squad: Viona NA, Danish AK, Nadia KP



