Baru 6 Kali Latihan, Langsung Bikin Kejutan! Kisah Pemanah Cilik LCA di Duta Archery 2 Surabaya

Duta Archery 2 20026 LCA 01

SURABAYA – Siapa bilang pemanah cilik perlu bertahun-tahun berlatih sebelum berani unjuk kemampuan? Di ajang Duta Archery 2, Minggu, 11 Oktober 2026, kisah Nabila Kirana Putri dan Viona Nayla Azzahra membuktikan bahwa keberanian mencoba bisa menghadirkan kejutan. Bertempat di MI Muhammadiyah 23, Surabaya, kompetisi yang diikuti 277 peserta dari 87 klub ini menjadi panggung belajar bagi para atlet muda, termasuk 25 anak dari Laskar Cokrokertopati Archery (LCA) yang hadir bersama delapan official. Ada prestasi, tantangan cuaca, persaingan sengit, dan tentu saja kekompakan orang tua yang membuat cerita hari itu semakin menarik.

Duta Archery 2 20026 LCA 02

277 Peserta, Delapan Kategori, dan Semangat LCA

Duta Archery 2 mempertandingkan kategori U8 jarak 5 meter, U10 jarak 7 meter, U12 jarak 9 meter, serta U14 jarak 13 meter. Setiap kategori dibagi menjadi kelompok putra dan putri. Anak-anak LCA tersebar di hampir seluruh kategori, menghadapi lawan dari berbagai klub dalam suasana kompetisi yang padat.

U8 Putra 5m: Elvano, Danish, Arya Dzaky.
U8 Putri 5m: Nabila, Zayyana
U10 Putra 7m: Alrescha
U10 Putri 7m: Viona, Aliqa, Annisa, Nachita, Adawiyah, Nadia Khanaya,
U12 Putra 9m: Azka Nararya, Sabrang, Zayyan
U12 Putri 9m: Realyta, Syafira, Aliqa, Hafizhah
U14 Putri 13m: Realyta, Nabilah, Nida, Afiqah, Bellvania

Perlombaan dimulai pukul 06.30 WIB dan berlanjut secara bergantian sesuai kategori. Bagi atlet usia dini, pengalaman seperti ini menjadi kesempatan untuk melatih konsentrasi, mengelola rasa gugup, dan membiasakan diri dengan suasana pertandingan.

Dua pemanah LCA mencatatkan hasil menonjol. Nabila Kirana Putri meraih peringkat kelima U8 5 meter putri, sedangkan Viona Nayla Azzahra menempati peringkat keenam U10 7 meter putri. Keduanya membawa pulang pengalaman berharga dari persaingan yang melibatkan ratusan peserta.

Duta Archery 2 20026 LCA 03

Nabila: Peringkat Lima Setelah Enam Kali Latihan!

Bagi Nabila, hasil tersebut terasa istimewa. Menurut Bu Lia, ibunda Nabila, ini merupakan kemenangan pertamanya setelah enam kali latihan. Awalnya, Nabila hanya ikut menemani kakaknya berlatih. Rupanya, suasana lapangan membuat rasa penasaran tumbuh menjadi semangat untuk ikut memanah.

Bu Lia mengaku senang melihat hasil tersebut karena Nabila semakin bersemangat mengikuti latihan. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap LCA, mulai dari pelatih yang profesional dan telaten membimbing teknik, hingga lingkungan klub yang hangat seperti keluarga besar.

Cerita Nabila menjadi pengingat bahwa ketertarikan anak pada olahraga bisa tumbuh dari hal sederhana. Awalnya menemani kakak, lalu mencoba, berlatih, dan akhirnya berani bertanding. Siapa sangka, kegiatan ikut-ikutan bisa menjadi awal perjalanan seorang pemanah?

Duta Archery 2 20026 LCA 04

Viona, Baru Berlatih 1,5 Bulan Langsung Masuk Enam Besar

Kejutan berikutnya datang dari Viona. Bu Ernawati, ibunda Viona, bercerita bahwa putrinya mulai belajar memanah sekitar satu setengah bulan sebelumnya melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Setelah itu, Viona bergabung dengan LCA untuk mengasah kemampuan secara lebih intensif.

Keluarga pun merasa sangat terkejut sekaligus bangga ketika Viona mampu tampil tenang dalam kompetisi pertamanya dan menempati peringkat keenam. Hasil ini menjadi modal berharga untuk melanjutkan latihan dan membangun kepercayaan diri.

Duta Archery 2 20026 LCA 05

Panas Terik, Target Menantang, Persaingan Selisih Satu Poin

Tantangan di arena juga menjadi cerita tersendiri. Bu Ita, ibunda Elang, menggambarkan cuaca pertandingan sangat panas. Menurutnya, target terasa kurang familiar dan cukup mengecoh. Ukurannya yang kecil serta posisi bidang kuning yang berada di luar titik tengah papan membuat bidikan terasa lebih menantang.

Pak Yudi, ayah Danish, juga bercerita bahwa cuaca sudah terasa panas meski putranya bertanding sekitar pukul 08.00 WIB. Walau jarak rumah menuju lokasi cukup jauh, Danish tetap antusias mengikuti kategori 5 meter. Nilainya bagus dan ia berhasil melewati pertandingan tanpa anak panah yang meleset dari sasaran. Namun, persaingan berlangsung rapat. Danish menempati peringkat kesepuluh, hanya terpaut satu poin dari peringkat kedelapan. Peringkat kesembilan dan kesepuluh pun memiliki nilai yang sama.

Hasil tersebut memperlihatkan betapa setiap poin memiliki arti dalam kompetisi panahan. Selisih kecil dapat menjadi bahan evaluasi besar untuk sesi latihan berikutnya.

Duta Archery 2 20026 LCA 06

Orang Tua Bergerak, Anak-Anak Fokus Membidik

Di balik pertandingan, delapan official LCA yang terdiri atas para orang tua menjalankan koordinasi lintas kategori. Orang tua dari kategori paling pagi menentukan lokasi berkumpul anggota, lalu meneruskan tanggung jawab kepada orang tua dari kategori berikutnya hingga seluruh perlombaan selesai.

Grup WhatsApp yang dibentuk pelatih LCA, Pak Sugeng, menjadi sarana koordinasi selama kegiatan. Informasi berpindah secara estafet, sementara para orang tua saling membantu agar rombongan tetap terorganisasi.

Duta Archery 2 menunjukkan bahwa perkembangan atlet muda lahir dari latihan, keberanian, dukungan keluarga, dan kerja sama komunitas. Nabila dan Viona membawa pulang hasil membanggakan, sementara seluruh peserta memperoleh pelajaran dari arena. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan sahabat Anda agar semakin banyak orang mengenal serunya panahan tradisional, manfaat olahraga bagi anak, serta kekuatan dukungan orang tua dalam perjalanan mereka.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top

Eksplorasi konten lain dari Laskar Cokrokertopati Archery

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca