
Minggu pagi, 12 Oktober 2025, bukan pagi biasa bagi keluarga besar Laskar Cokrokertopati Archery (LCA). Belasan anak, orang tua, dan pelatih berkumpul sejak subuh di Surabaya, bersiap menempuh perjalanan ke Stadion Anjuk Ladang, Nganjuk, untuk mengikuti Gladen Ageng Nganjuk 2025 yang diselenggarakan oleh PNJ Nganjuk.
Bukan cuma sekadar pertandingan panahan tradisional, tapi juga petualangan penuh tawa, peluh, dan kisah berkesan yang sulit dilupakan.
Perjalanan yang Penuh Cerita
Bus yang membawa rombongan LCA berangkat sebelum matahari muncul. Anak-anak tertidur, sebagian lainnya sibuk bercanda, sementara para orang tua sudah siap dengan bekal, kipas, dan doa terbaik mereka. Bagi Ilmira, Duta, dan Azka, ini adalah pengalaman pertama bertanding di luar kota. Lengkap dengan rasa deg-degan dan rasa ingin tahu yang membuncah.

Setibanya di lokasi, cuaca panas menyengat seolah menantang semangat para pemanah. Namun seperti biasa, anak-anak LCA tampil berani dan pantang menyerah.
Anak LCA yang bertading:
+HB-U9-Putri: Ilmira.
+HB-U9-Putra: Ikhsan, Duta.
+HB-U13-Putri: Afiqah, Zayra, Nailah, Hana.
+HB-U13-Putra: Faris, Adit, Farrel, Omar, Abrisyam, Azka.
+HB-U18-Putri: Rara
+HB-U18-Putra: Mirza, Azzam, Yahya
+Jemparing Umum Putri: Amanah, Nailulmuna
Ada Adit yang tampil stabil dan berhasil meraih Juara Harapan 2 U13 Putra. Namun kali ini tanpa βritual tidurβ sebelum bertanding seperti biasanya. π
Lalu ada Farrel, yang akhirnya βpecah telorβ. Ia untuk pertama kalinya lolos ke babak 16 besar, meski sempat grogi saat memanah.
Dan yang paling menyentuh, Ilmira dari kategori U9 Putri berhasil masuk 16 besar, namun belum berhasil masuk ke babak 6 besar. Langkahnya terhenti di posisi ke-7. Air mata kecewa sempat jatuh, tapi justru di sanalah terlihat kekuatan keluarga LCA. Para orang tua saling bantu menenangkan, saling menghibur, dan saling dukung.

Kisah di Balik Panah dan Persaudaraan
Usai pertandingan, suasana hangat terus terasa. Di perjalanan pulang, Azzam menjadi Music Director dadakan, menyusun playlist lagu-lagu romantis βala anak senjaβ untuk menggoda teman-temannya sesama U18 yang sedang jatuh cinta.
Di sisi lain, Pak Wawan, ayah Adit, bercerita kalau dua anak panah Adit rusak. Tapi ada kejutan, Pak Rudi, ayah Ilmira, ternyata punya kemampuan memperbaiki anak panah, dan siap membantu memperbaikinya di waktu senggangnya.
Saat diwawancarai, Pak Rudi mengaku sangat berkesan. βAda kekompakan luar biasa di antara orang tua. Saat anak saya menangis, semua bunda memberi dukungan. Saya belajar tentang kebersamaan dan persaudaraan di tengah rivalitas,β ujarnya haru.
Sementara Pak Fandi, ayah Duta, menambahkan, βSenang, capek, tapi bahagia bareng. Walau Duta belum menang, saya termotivasi untuk terus mendukung anak.β

Lebih dari Sekadar Lomba
Di Laskar Cokrokertopati Archery, setiap pertandingan bukan hanya soal prestasi, tapi juga tentang kebersamaan, karakter, dan semangat pantang menyerah.
Pertandingan luar kota seperti Gladen Ageng Nganjuk 2025 selalu jadi momen istimewa. Tempat tawa, pelajaran, dan persaudaraan tumbuh bersama.
π Bagikan kisah inspiratif ini kepada teman-teman Anda, agar semangat keluarga besar LCA dalam memanah bisa menular ke lebih banyak hati.
Follow kami di:




Pingback: Berangkat Dini Hari, Pulang Bawa Juara: Kisah Lucu tapi Serius Laskar Cokrokertopati Archery di Bupati Cup 2025 | Laskar Cokrokertopati Archery