Cerita dibalik LGPM 2026 #3 (habis): Xspot+ Bikin Skoring Makin Ngebut

Latihan Gabungan Pelajar Merdeka 2026 LCA 22
Xspot+ 01

Latihan gabungan biasanya identik dengan panah, target, dan suasana kompetitif. Namun pada Latihan Gabungan Pelajar Merdeka 2026 yang digelar Laskar Cokrokertopati Archery (LCA), Minggu, 23 Agustus 2026, di Yakes Telkom Surabaya, ada satu pemain penting yang bekerja di balik layar, Xspot+. Aplikasi skoring digital buatan tim IT LCA ini menjadi salah satu perhatian menarik dalam event yang mempertemukan 76 pelajar dari 12 klub panahan tradisional.

Dari Latihan Rutin Naik Kelas

Xspot+ pertama kali diluncurkan pada Juni 2026. Sejak saat itu, aplikasi tersebut terus digunakan dalam latihan rutin LCA untuk mencatat perkembangan skor para pemanah.

Konsepnya sederhana: scorer memasukkan hasil panahan, lalu data dapat dipantau secara digital. Bagi orang tua, tersedia fitur berupa tautan khusus sehingga perkembangan latihan anak dapat dipantau secara realtime, melalui HP masing-masing.

Dengan sistem seperti ini, latihan memanah terasa semakin terukur. Orang tua bisa melihat perkembangan skor, pelatih memiliki data latihan, sementara atlet memperoleh gambaran mengenai performanya.

Pada Latihan Gabungan Pelajar Merdeka 2026, Xspot+ mendapat tantangan lebih besar. Penggunanya bukan hanya pemanah LCA, melainkan peserta dari berbagai klub sahabat.

Hasilnya cukup menarik.

Setiap scorer dapat memasukkan skor dengan mudah. Data kemudian diperbarui sehingga pelatih dan orang tua bisa mengikuti pergerakan nilai secara realtime.

Lebih menarik lagi, Xspot+ pada event tersebut menggunakan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan panitia. Sistem pertandingan dibuat dalam format aduan, kemudian aplikasi secara otomatis membantu memilah peringkat pemanah dan memberikan rekomendasi peserta yang berhak melaju ke babak berikutnya hingga final.

Artinya, pekerjaan yang biasanya membutuhkan pencatatan manual dan kalkulasi berulang dapat dibuat lebih ringkas.

Panah tetap terbang secara tradisional. Skornya sudah masuk era digital.

Silahkan membaca juga “Tamu LCA Ikut Menggila” |klik disini|

Latihan Gabungan Pelajar Merdeka 2026 LCA 20

Pelatih Ikut Angkat Suara

Keberadaan Xspot+ juga mendapat perhatian dari pelatih klub peserta.

Sita, pelatih Brave Archery, menyebut anak didiknya sangat menikmati pertandingan. Menurutnya, event berlangsung cepat dan menyenangkan. Ia juga menyoroti sistem scoring yang cepat diperbarui.

Respons serupa muncul dari para pendamping klub lain.

Abizar dari MUSA Surabaya membawa satu anak asuh dalam event tersebut. Ia menilai Latihan Gabungan menjadi kesempatan berharga untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengasah mental dan menambah jam terbang atlet dalam mengikuti pertandingan panahan.

Ia berharap event semacam ini semakin sering digelar agar bibit-bibit muda dari Jawa Timur, khususnya Surabaya, semakin bermunculan dan mampu bersaing di level nasional.

Ardi dari Nurussunah Archery Sidoarjo (NSA) datang bersama tiga anak. Ia menyebut peserta sangat antusias mengikuti event LCA. Menurutnya, kegiatan berjalan lancar, aman, sesuai rundown, serta memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak-anak.

Ia juga mengapresiasi berbagai fasilitas pendukung seperti doorprize, konsumsi, area parkir, dan lingkungan Yakes Telkom yang sejuk. Ardi berharap latihan gabungan dapat kembali digelar secara berkala dengan jumlah peserta dan klub yang semakin besar.

Dari JAMPI, Wita membawa satu siswa. Baginya, latihan gabungan memberikan pengalaman baru bagi atlet dalam hal kedisiplinan, kekompakan, tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, serta kemampuan menghadapi tantangan.

Sementara itu, Bu Cicik, Kepala Sekolah KB-TK Setya Harapan Surabaya, hadir mendampingi empat anak. Ia melihat event tersebut sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan memanah sekaligus keberanian, konsentrasi, kedisiplinan, sportivitas, dan rasa percaya diri.

Kedungturi Archery Club juga turut mencatat hasil positif dengan dua atlet yang meraih podium, yakni juara 1 kategori 7 meter putra dan juara 3 kategori 10 meter putra. Dari klub ini muncul harapan agar kegiatan semacam Latihan Gabungan dapat menjadi agenda rutin untuk regenerasi atlet Perpatri, sekaligus menjadi ruang penyaringan atlet usia dini, anak-anak, hingga remaja.

Latihan Gabungan Pelajar Merdeka 2026 LCA 21

Teknologi Mendukung Panahan Tradisional

Menariknya, penggunaan teknologi dalam event ini justru memperkuat karakter pertandingan panahan tradisional. Busur dan anak panah tetap menjadi pemeran utama, sementara teknologi mengambil peran sebagai pendukung agar pencatatan hasil pertandingan semakin cepat dan transparan.

Bagi LCA, Xspot+ juga menjadi bukti bahwa olahraga tradisional dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Data latihan menjadi lebih mudah dibaca, orang tua memperoleh akses perkembangan anak, dan panitia memiliki alat bantu untuk mengelola pertandingan dengan lebih efisien.

Yang lebih menarik, sistem Xspot+ dirancang agar bisa diadopsi klub lain. Jadi, karya tim IT LCA berpotensi berkembang dari kebutuhan internal menjadi solusi bersama bagi komunitas panahan tradisional Indonesia.

Pada akhirnya, Xspot+ bukan sekadar aplikasi pencatat angka. Ia menjadi bagian dari perjalanan LCA membangun sistem latihan dan pertandingan yang semakin modern, terukur, serta ramah bagi atlet, pelatih, orang tua, dan panitia. Anda bisa membayangkan: panah melesat dalam hitungan detik, skor menyusul hampir seketika. Kalau teknologi bisa membantu anak-anak fokus mengejar target, kenapa tidak kita beri ruang? Bagikan artikel ini kepada teman, pelatih, atau klub panahan yang mungkin tertarik mencoba inovasi serupa.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top

Eksplorasi konten lain dari Laskar Cokrokertopati Archery

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca