
Anda mungkin pernah berpikir bahwa prestasi lahir dari anak yang selalu serius, penuh target, dan disiplin ketat sejak awal. AME 2026 justru menghadirkan cerita berbeda. Dari arena panahan SMP Al Muslim, Waru, Sidoarjo, muncul kisah sederhana namun menyentil, tentang proses, kesabaran, dan buah latihan yang datang tepat pada waktunya.
AME 2026 atau Al-Muslim Junior High School Exhibition merupakan agenda tahunan SMP Al Muslim. Event ini digelar pada 5 Februari 2026 dan diikuti 108 peserta dari 47 klub panahan. Seluruh peserta merupakan siswa SD kelas 4–6 yang bertanding di jarak 10 meter, dengan format 6 anak panah dalam 6 rambahan. Atmosfer kompetisi terasa hidup sejak pagi, penuh semangat dan sorot mata penasaran para pemanah cilik.
Laskar Cokrokertopati Archery, club panahan tradisional Surabaya, mengirimkan lima pegiat terbaiknya. Dari kategori putra hadir Satria Pratama DWH dan Hafizh Raffa SJ. Dari kategori putri tampil Rizki Hana M, Aisyah Inara I, serta Talitha Diandra. Mereka datang membawa busur, anak panah, dan satu bekal utama: pengalaman latihan rutin yang konsisten.
Di antara nama-nama tersebut, Satria Pratama DWH mencuri perhatian. Setelah genap satu tahun berlatih di LCA, Satria berhasil meraih Juara Harapan 3. Sebuah capaian yang terasa istimewa, karena menjadi podium perdana sepanjang perjalanan latihannya.

Cerita di balik pencapaian ini terasa semakin menarik saat disimak dari sudut pandang orang tua. Sang bunda, Bu Ninik, menuturkan bahwa kemenangan ini hadir tepat di momen satu tahun Satria bergabung dengan Laskar Cokrokertopati Archery. Sebuah penanda bahwa proses panjang akhirnya menampakkan hasil.
Persiapan Satria menjelang AME 2026 pun jauh dari kesan tegang. Ia dikenal sebagai anak yang santai, gemar bercanda saat latihan, dan menjalani panahan sebagai aktivitas yang menyenangkan. Namun justru dari suasana ringan inilah konsistensi tumbuh. Latihan tetap dijalani, busur tetap ditarik, dan anak panah tetap dilepaskan dengan penuh rasa ingin tahu.
Bagi Bu Ninik, mengikutkan Satria ke latihan panahan menjadi cara memberi ruang aktivitas yang sehat dan bermakna selama waktu luang. Dari sinilah perubahan kecil mulai terasa. Fokus Satria berkembang, lingkar pertemanannya meluas, dan cerita-cerita baru selalu mengalir setiap pulang latihan. Panahan tradisional menjadi medium tumbuh, bukan sekadar arena lomba.
Di lapangan AME 2026, Satria tampil stabil. Setiap rambahan dilalui dengan tenang, tanpa ekspresi berlebihan. Saat papan skor menunjukkan namanya berada di jajaran juara harapan, rasa syukur dan bangga mengalir begitu saja. Bukan karena angka semata, melainkan karena proses panjang yang akhirnya terbayar.
Prestasi ini juga memberi energi positif bagi anak-anak LCA lainnya. Mereka melihat langsung bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri. Ada yang cepat bersinar, ada pula yang matang perlahan. Semuanya sama-sama berharga dalam perjalanan memanah.
Bagi Laskar Cokrokertopati Archery, AME 2026 kembali menegaskan filosofi pembinaan yang berfokus pada karakter. Memanah mengajarkan fokus, kesabaran, kontrol emosi, serta keberanian menghadapi tantangan. Podium menjadi bonus yang menyusul di belakangnya.
Jika kisah ini menyentuh sudut pandang Anda tentang dunia panahan tradisional dan tumbuh kembang anak, bagikan artikel ini. Barangkali ada orang tua lain yang sedang menunggu hasil dari proses panjang yang sedang dijalani anaknya.




Pingback: Klub Ini Diam-Diam Mengguncang Arena Panahan Jawa Timur: 12 Anak LCA Pulang Bawa Prestasi dari MBS PRO ISLAMIC FEST 2026 | Laskar Cokrokertopati Archery