Ternyata ini rahasia para orang tua mengantarkan anaknya hingga juara

Gladen Alit Antar Pelajar Kata Orang Tua LCA 05
Gladen Alit Antar Pelajar Kata Orang Tua LCA 01

Dua minggu sudah berlalu sejak kemeriahan Gladen Alit Antar Pelajar IV (GAAP-IV) 2026 yang digelar pada 17 Februari 2026 di SD Mumtaz Surabaya oleh Laskar Cokrokertopati Archery (LCA). Meski waktu terus berjalan, cerita dari para pemanah muda serta orang tua mereka masih hangat diperbincangkan. Atmosfer kompetisi panahan tradisional yang diikuti ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Surabaya menghadirkan pengalaman berharga. Melatih fokus, mental, dan keberanian anak-anak di arena pertandingan.

Pada artikel sebelumnya, sorotan tertuju pada para orang tua dari SD Mumtaz sebagai sekolah dengan jumlah peserta terbanyak. Kali ini, cerita datang dari berbagai sekolah yang turut meramaikan kompetisi panahan tradisional pelajar di Surabaya ini. Dari kisah mereka, Anda bisa melihat satu benang merah yang menarik, bahwa panahan ternyata menjadi ruang tumbuh yang luar biasa bagi anak-anak.

Panahan Mengasah Mental

Bapak Yudha dan Ibu Dewi mendampingi dua anaknya sekaligus dalam GAAP-IV, yaitu Mirza Athazafri Wahyudha (13 tahun, SMP Labschool Unesa 2) dan Zayra Athaqila Wahyudha (10 tahun, SD Muhammadiyah 24 Surabaya).
Mirza berhasil meraih Juara 1 kategori SMA Putra U18 jarak 20 meter, sementara Zayra membawa pulang Juara 2 kategori SMP Putri U16 jarak 15 meter. Menurut mereka, lomba ini sangat berkesan karena mampu mengasah mental anak saat bertanding. Mereka juga melihat LCA sebagai tempat yang membantu anak berkembang hingga meraih prestasi.

Dua Anak, Dua Cerita, Juara Dua

Pasangan bapak Danur Anas dan ibu Radita Wanda memiliki dua anak yang sama-sama mengikuti GAAP-IV 2026. Putra pertama mereka, Muhammad Abraham Nurdaffa Pratama, siswa kelas 6 SD Sawunggaling 7 Surabaya, Juara 2 jarak 10 meter. Sedangkan putra kedua mereka Muhammad Sultan Nur Maulana, siswa kelas 1 SD Sawunggaling 1 Surabaya berusia 7 tahun, meraih Juara 2 jarak 7 meter. Keeduanya telah bergabung di LCA sejak tahun 2024. Orang tuanya menceritakan bahwa pengalaman lomba ini terasa seru dan berkesan bagi Sultan. Ketika ditanya tentang rahasia keberhasilan, Sultan sendiri menjawab dengan sederhana: fokus melihat target berwarna kuning. Menurut keluarga ini, pengalaman mengikuti GAAP-IV memberikan kesan yang sama: seru, menyenangkan, sekaligus penuh pembelajaran. LCA menurut mereka menjadi tempat yang mampu memotivasi anak-anak untuk terus berkembang dalam dunia panahan.

Mood Anak Jadi Kunci

Pasangan bapak Sayudi Abdollah dan ibu Endah Pertiwi mendampingi putri mereka Yurinda Devina Putri, siswa TK Setya Harapan usia 5 tahun. Yurinda berhasil meraih Juara 3 kategori TK jarak 5 meter. Menurut mereka, suasana lomba sangat seru dengan antusiasme peserta dan orang tua. Rahasia keberhasilan Yurinda menurut sang ayah sederhana namun penting, yakni menjaga mood anak tetap baik saat bertanding.

Dua Hari Latihan, Langsung Juara

Kisah menarik datang dari Muhammad Sulton Alfatih Roanas, siswa TK Setya Harapan. Anak usia 5 tahun 5 bulan ini baru berlatih sekitar dua hari bersama Coach Sugeng, namun berhasil meraih Juara Harapan 2 kategori U7 jarak 5 meter. Orang tuanya, bapak Zainal Roanas dan ibu Yuyun Wahyuni, merasa kagum dengan kedisiplinan pelatih LCA. Mereka melihat panahan sebagai olahraga yang juga memiliki nilai sunnah dalam Islam dan berharap LCA terus berkembang.

Latihan Rutin Berbuah Hasil

Derry Hazim Muayyad, siswa SD Muhammadiyah 24 Surabaya usia 11 tahun, meraih Juara Harapan 3 kategori jarak 20 meter. Orang tuanya, bapak Surya Rozi dan ibu Emma, menilai GAAP-IV menjadi ajang penting untuk mengasah mental sekaligus menambah pengalaman bertanding. Rahasia keberhasilan menurut mereka sederhana, yakni ikhtiar dan rajin berlatih.

Kekeluargaan yang Kental

Seorang wali atlet yang akrab dipanggil bundanya Rara menceritakan pengalaman putrinya yang mengikuti dua kategori sekaligus dan meraih Juara Harapan 2 jarak 20 meter. Ini adalah presatasi pecah telor Rara sejak tahun 2004. Bundanya Rara merasa senang karena menemukan klub dengan rasa persaudaraan yang kuat. Menurutnya, suasana LCA yang penuh dukungan membuat anak merasa nyaman dan semakin semangat berlatih.

Mengontrol Emosi Saat Lelah

Annisa Nur Husna, siswa SD Muhammadiyah 24 Surabaya usia 9 tahun, berhasil meraih Juara 1 kategori 7 meter dan Juara Harapan 2 kategori 10 meter. Orang tuanya, bapak Ali dan ibu Kinanti, melihat kunci kemenangan Annisa adalah ketenangan dan kemampuan mengontrol emosi saat tubuh mulai lelah.

Gladen Alit Antar Pelajar Kata Orang Tua LCA 02

Berani Mencoba Hal Baru

Shafiyyah Putri Disa, siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 24 Surabaya, mencuri perhatian dengan Juara 1 kategori SMP 15 meter dan Juara 1 kategori SMA 20 meter. Orang tuanya, bapak Sanni Nur Wijaya dan ibu Mardiana Wahyu, merasa bangga karena Shafiyyah mencoba busur barebow yang baru pertama kali digunakan. Mereka menyebut kunci keberhasilan adalah latihan rutin, teknik yang benar, serta doa dan restu orang tua.

Event Memicu Semangat

Aysel Tamima Nugroho, siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 22 Surabaya, putri dari bapak Lathif Nugroho dan ibu Aminatur Rohmah berhasil meraih Juara 2 kategori TK meski baru satu bulan bergabung di LCA. Mereka merasa suasana lomba sangat santai namun tetap fokus, sehingga anak merasa lebih rileks saat bertanding.

Event yang Transparan

Cyrilla Senja Wijayakusuma, siswa SD Labschool Unesa 1, putri dari bapak Choirul Huda dann ibu Dian Tri Wulandari, meraih Juara 2 kategori SD 123 jarak 7 meter. Mereka mengapresiasi penggunaan aplikasi Manah Pro yang membuat hasil pertandingan tampil secara real time. Menurut mereka, latihan rutin serta kesempatan mengikuti event juga membuat anak semakin berkembang.

Lawan Terbesar Adalah Diri Sendiri

Putri dari bapak Risad Tri Wardono dan ibu Artin Mikoriyah, Afiqah Kusuma Wardono, siswi kelas 6 SDN Gunungsari 3, meraih Juara Harapan 1 kategori SMP dan SMA. Menurut orang tuanya, panahan mengajarkan satu hal penting, yakni lawan terbesar bukan orang lain, melainkan diri sendiri.

Kebersamaan yang Hangat

Rezita Mukti Fazila, siswi kelas 6 SD Khadijah 2, meraih Juara 2 kategori SMP 15 meter dan Juara Harapan 3 kategori SMA 20 meter. Bapak Mukti dan ibu Defi, orang tua Rezita, melihat kebersamaan antar atlet dan keluarga menjadi momen yang sangat berkesan.

Arahan Coach Membuat Atlet Lebih Tenang

Banyu Sukmmo Wicaksono, siswa SMPN 46 Surabaya, meraih Juara 3 kategori SMA jarak 20 meter meski baru dua bulan bergabung di LCA. Ibu Dinnar Putri, orang tua Banyu, menilai arahan pelatih saat pertandingan membuat atlet merasa lebih percaya diri.

Gladen Alit Antar Pelajar Kata Orang Tua LCA 03

Belajar dari Senior

Satria Pratama Dannik Wijaya Hadi, siswa kelas 6 SDN Gunungsari 1, mendapatkan Juara Harapan 2 di dua kategori. Bapak Teguh Wijaya Hadi dan ibu Ninik Suhartini, orang tua Satria, merasa anak mendapat banyak ilmu dari senior di klub, termasuk motivasi dari atlet LCA yang lebih berpengalaman.

Disiplin Jadi Kunci

Pasangan bapak Erik S dan ibu Dahlia. Putri mereka Irene Azka, siswi kelas 6 SD Al falah Surabaya, berhasil meraih Juara 1 kategori 10 meter dan Juara Harapan 2 kategori SMP 15 meter. Menurut mereka, disiplin latihan dan tujuan yang jelas membuat anak berkembang pesat.

Dukungan Keluarga Sangat Penting

Laksamana Muhammad Yusuf, siswa kelas 6 SDN Kandangan 2, meraih Juara 2 kategori SMA serta beberapa podium lain. Orang tuanya, bapak Achmad Dhofir dan ibu Fitri Anggraeni, menekankan pentingnya latihan, doa, dan dukungan keluarga.

Anak Berusaha, Orang Tua Belajar

Pasangan bapak Basuki Wibowo dan ibu Pia Sisilia. Putri mereka Yumna El Queenara Wibowo, siswi kelas 3 MIN 2 Surabaya meraih Juara Harapan 1 kategori 7 meter. Sang ayah menyebut pengalaman ini unik karena anak berusaha di lapangan, orang tua ikut belajar memahami prosesnya.

Panahan Menguatkan Ikatan Kekeluargaan

Pasangan bapak Suyud Puguh Sunoto dan ibu Widya Arum mendampingi putra mereka Muhammad Azka Nararya Sunoto, siswa kelas 3 SD Kreatif Annur Surabaya yang berusia 9 tahun. Azka berhasil meraih Juara Harapan 1 pada jarak 10 meter. Azka telah berlatih di LCA selama tiga tahun. Menurut orang tuanya, lomba ini memberikan kesempatan bagi anak untuk menambah ilmu panahan sekaligus mengenal lebih dekat anggota komunitas LCA. Rahasia keberhasilan Azka menurut mereka terletak pada latihan teknik serta kemampuan mengatur emosi saat bertanding. Satu hal yang membuat keluarga ini betah di LCA adalah suasana kekeluargaan yang kuat di dalam klub.

Pecah Telur yang Membanggakan

Cerita menarik datang dari Arkha Naufal Zikra Wibowo, siswa kelas 2 MIN 2 Surabaya yang berusia 9 tahun. Arkha mengikuti kategori jarak 7 meter. Orang tuanya, bapak Edy dan ibu Sholi. menceritakan bahwa telah mengenal LCA sekitar tiga tahun, sejak masa TK melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Momen paling berkesan bagi keluarga ini adalah saat Arkha akhirnya naik podium untuk pertama kalinya pada kategori 7 meter kali ini. Menurut sang ayah, keberhasilan Arkha datang dari latihan setiap hari secara konsisten, meskipun hanya sebentar. Sebagai tambahan motivasi, orang tua juga sering memberikan reward kecil saat Arkha meraih prestasi. Bagi mereka, LCA memberikan manfaat besar dalam kesehatan fisik, ketahanan mental, serta pembentukan karakter anak.

Kejutan Indah di Arena Panahan

Pasangan bapak Suyanto dan ibu Titik Genti mendampingi putri mereka Laras Ayu Hapsari, siswi kelas 2 SMP Kartika 4/11 Surabaya yang berhasil meraih Juara 2 jarak 20 meter. Laras sendiri telah bergabung dengan LCA selama satu tahun. Bagi orang tuanya, hal yang paling berkesan dari GAAP-IV adalah suasana lomba yang unik dengan nuansa panahan tradisional serta kostum tradisional para peserta. Selain itu, mereka merasa bangga karena Laras mampu meraih podium dengan semangat yang konsisten. Rahasia keberhasilan menurut mereka cukup sederhana: memberi semangat kepada anak untuk terus maju tanpa tekanan untuk menjadi juara.

Gladen Alit Antar Pelajar Kata Orang Tua LCA 04

Dari semua cerita tersebut, Anda bisa melihat satu kesimpulan menarik, yakni panahan tradisional menjadi ruang belajar bagi anak sekaligus orang tua. Ada latihan teknik, pengendalian emosi, keberanian mencoba, hingga kekuatan dukungan keluarga.

Jika kisah ini terasa inspiratif bagi Anda, bagikan artikel ini kepada sahabat, keluarga, atau komunitas sekolah. Siapa tahu cerita para pemanah muda dari Laskar Cokrokertopati Archery Surabaya ini menjadi pemicu lahirnya atlet panahan berikutnya.

Follow:

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top

Eksplorasi konten lain dari Laskar Cokrokertopati Archery

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca