
Dua minggu berlalu sejak Gladen Alit Antar Pelajar ke-IV (GAAP-IV) 2026, namun gaungnya masih terasa hangat di benak Anda yang hadir, mendampingi, atau sekadar menyimak cerita dari pinggir lapangan. Di Lapangan Parkir SD Mumtaz, Sepanjang, Sidoarjo, pada 17 Februari 2026 lalu, satu hal terasa jelas: panahan tradisional di Laskar Cokrokertopati Archery bukan sekadar urusan anak melepas anak panah, melainkan ruang belajar bersama antara anak dan orang tua.
GAAP-IV memang dirancang sebagai ajang internal. Namun justru dari suasana itulah muncul pengalaman yang terasa dekat, jujur, dan membumi. SD Mumtaz menjadi sekolah dengan jumlah peserta terbanyak, menghadirkan atmosfer yang ramai, kompetitif, sekaligus akrab. Anak-anak berlomba, orang tua mengamati, lalu semua pulang membawa pelajaran masing-masing.
Bagi Bapak Sony dan Ibu Linda, orang tua dari Reyhan Valiant Athallah (kelas 4, usia 11 tahun), GAAP-IV menjadi tolok ukur penting. Reyhan yang telah bergabung bersama LCA selama dua tahun turun di kategori SD 4–6 jarak 10 meter dan meraih Juara 3 Putra. “Yang paling terasa adalah ujian mental bertandingnya,” tutur mereka. Menurut keduanya, kunci kemenangan Reyhan terletak pada satu kata sederhana: yakin. Lingkungan latihan, kecocokan dengan coach, serta materi yang terstruktur membuat Reyhan tumbuh dengan rasa percaya diri yang utuh.
Cerita penuh syukur juga datang dari Bapak Amirudin Arif dan Ibu Ciek Istichomah, orang tua Mahreen Azahra (kelas 3, usia 9 tahun). Meski baru enam bulan bergabung, Mahreen sudah berani tampil di dua kategori, SD 1–3 jarak 7 meter dan SD 4–6 jarak 10 meter, lalu membawa pulang Juara 3 Putri. Mereka menyebut GAAP-IV sebagai lomba yang memberi kepuasan batin. Latihan rutin, doa, serta motivasi yang terus mengalir menjadi bekal penting. Harapan mereka sederhana sekaligus besar: Mahreen tumbuh menjadi atlet panahan yang melangkah hingga tingkat nasional.
Bapak Ragil dan Ibu Merna, orang tua Ghani Alfarizqi Utomo (kelas 3, usia 9 tahun), memandang GAAP-IV sebagai lomba pemula yang menantang. Ghani, yang bergabung sejak Agustus 2025, tampil di dua kategori dan meraih Harapan 3 SD 1–3 Putra. “Anak-anak masih punya ruang berharap, namun tetap diuji secara mental,” ujar mereka. Banyak latihan membuat feeling Ghani semakin terasah, menjadi fondasi yang terus dibangun perlahan.
Sementara itu, Berryl Hamizan (kelas 3, usia 9 tahun), putra dari Bapak Eko Setiawan dan Ibu Diana Pratiwi, ikut merasakan pengalaman seru meski baru tiga bulan bergabung. Turun di kategori SD 1–3 jarak 7 meter, Berryl membawa pulang Juara 1 Putra. Yang paling berkesan bagi keluarga ini adalah pengalaman baru, bertambahnya teman, serta suasana lomba yang penuh kuis dan hadiah. Latihan rutin dan rasa percaya diri menjadi bekal utama Berryl melangkah.
Kisah reflektif datang dari Bapak Dedy Safirudin dan Ibu Septriani, orang tua Abdel Ahsan Alfarezqy (kelas 3, usia 9 tahun), peraih Harapan 2 SD 1–3 Putra. Mereka menyoroti kuatnya suasana kebersamaan dan sportivitas. Sorakan dukungan, kerja keras sebelum lomba, serta disiplin selama latihan membentuk karakter Abdel. Bagi mereka, LCA terasa seperti keluarga yang saling menguatkan, dengan pelatih dan anggota yang terus menyemangati.
Dari semua kisah ini, Anda bisa melihat satu benang merah: GAAP-IV menjadi ruang belajar bersama. Anak belajar fokus, orang tua belajar percaya. Di lapangan, target memang berbentuk bantalan, namun sasaran sesungguhnya adalah karakter, ketenangan, dan keberanian bertumbuh.
Memori GAAP-IV mungkin telah lewat dua minggu, namun nilai yang dibawa pulang akan terus hidup dalam setiap sesi latihan. Jika kisah ini terasa dekat di hati Anda, bagikan artikel ini agar semakin banyak orang tua ikut naik kelas bersama anak-anaknya.
Follow:




Pingback: Ternyata ini rahasia para orang tua mengantarkan anaknya hingga juara | Laskar Cokrokertopati Archery