
Minggu, 31 Mei 2026 menjadi hari yang sangat meriah bagi para pecinta panahan tradisional di Surabaya. Dalam rangka Festival Tepi Pantai memperingati Hari Jadi Kota Surabaya ke-733, ratusan pemanah dari berbagai daerah berkumpul di Lapangan Pantai Kenjeran, tepat di sebelah Jembatan Suroboyo, untuk mengikuti Gladen Alit Surabaya 2026 yang diselenggarakan oleh Perpatri NJ. Suasana pantai yang cerah, semangat para peserta, dan dukungan keluarga menjadikan perlombaan ini lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah perayaan kebersamaan yang luar biasa.
Sebanyak 512 peserta ambil bagian dalam ajang ini, dengan 58 peserta mendaftar pada lebih dari satu kategori. Peserta terbanyak berasal dari Surabaya, disusul berbagai daerah lain di Jawa Timur. Menariknya, ajang ini juga menghadirkan peserta dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Karanganyar, hingga Kabupaten Tangerang. Total terdapat 47 klub yang berpartisipasi dalam 12 kategori perlombaan.
Di tengah ramainya arena pertandingan, perhatian banyak orang tertuju pada Laskar Cokrokertopati Archery (LCA). Klub panahan tradisional asal Surabaya ini tampil sebagai klub dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu 74 pemanah. Sebuah angka yang menunjukkan semangat luar biasa dalam membangun generasi muda melalui olahraga panahan tradisional.
Sejak pagi hari, kawasan pertandingan sudah dipenuhi oleh keluarga besar LCA. Seperti tradisi yang selalu terjaga, setiap anak datang bersama orang tua yang sekaligus bertindak sebagai official. Mereka hadir untuk mendampingi, memberikan semangat, dan memastikan putra-putrinya tampil maksimal di arena perlombaan.
Pemandangan unik pun terlihat di sepanjang area pertandingan. Tikar tergelar rapi, kursi lipat berdiri berjejer, meja lipat terpasang di berbagai sudut, sementara kotak bekal dan camilan favorit keluarga ikut menemani suasana. Sekilas suasananya lebih mirip kegiatan piknik keluarga besar daripada sebuah perlombaan nasional.
Meski panitia menyediakan berbagai booth makanan dan minuman, setiap keluarga tetap membawa bekal masing-masing. Ada yang berbagi camilan, ada yang saling menawarkan makanan, bahkan ada yang bergantian menjaga barang ketika orang tua lain mendampingi anaknya di waiting line. Kehangatan inilah yang menjadi ciri khas keluarga besar LCA.
Kepadatan arena terasa semakin tinggi saat kategori TK dan SD berlangsung. Pada kategori ini, orang tua sebagai official diperkenankan membantu petugas scorer mencabut anak panah ketika proses scoring berlangsung. Kehadiran mereka sangat membantu karena sebagian peserta masih berusia sangat muda dan membutuhkan bantuan saat mengambil anak panah dari bantalan target. Proses penilaian pun berjalan lebih cepat dan efisien berkat kerja sama yang luar biasa antara panitia, scorer, dan para orang tua.
Gladen Alit Surabaya 2026 juga menghadirkan format perlombaan yang sangat menarik. Selain memperebutkan peringkat Juara 1, 2, dan 3 di setiap kategori, panitia juga memberikan penghargaan berdasarkan jenis busur yang digunakan, yaitu Horsebow, Barebow, dan Jemparingan. Sistem ini memberikan peluang lebih besar bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaik sesuai karakteristik peralatan yang mereka gunakan.
Hasilnya, para pemanah LCA berhasil membawa pulang sejumlah prestasi membanggakan.

Pada kategori TK Putra 5 meter, Ibrahim AF berhasil meraih Peringkat 2 sekaligus Juara Horsebow 1. Di kategori TK Putri 5 meter, Kireina AA meraih Peringkat 3 dan Juara Horsebow 3.

Prestasi berikutnya datang dari kategori SD 123 Putri 7 meter melalui Cyrilla Senja W yang berhasil meraih Juara Barebow 3.

Pada kategori SD 456 Putri 10 meter, Realyta AKZ meraih Juara Barebow 3, sementara Rizki Nailah A tampil gemilang dengan meraih Juara Jemparingan 1.

Di kategori SMP Putra 15 meter, Abimanyu Panji APA sukses meraih Peringkat 2 sekaligus Juara Barebow 1. Rekan satu klubnya, Danish RAF, melengkapi prestasi LCA dengan meraih Juara Barebow 2.
Keseruan perlombaan semakin terasa karena setiap selesai satu kategori, panitia langsung mengumumkan pemenang dan melaksanakan UPP (Upacara Penghormatan Pemenang). Medali dan sertifikat diserahkan langsung kepada para juara, menghadirkan momen kebanggaan yang menjadi kenangan indah bagi setiap peserta dan keluarga.
Selepas waktu Ashar, seluruh rangkaian perlombaan resmi berakhir. Kategori Jawara dengan jarak 22 meter menjadi penutup yang sempurna bagi festival panahan tradisional yang berlangsung sejak pagi hari.
Gladen Alit Surabaya 2026 kembali membuktikan bahwa panahan tradisional bukan hanya tentang anak panah yang melesat menuju target. Ada nilai kebersamaan, kekeluargaan, sportivitas, dan semangat tumbuh bersama yang terus hidup di dalamnya. Dan bagi keluarga besar LCA, hari itu menjadi bukti bahwa perjalanan membangun generasi tangguh melalui panahan tradisional terus melaju dengan penuh semangat.
Jika Anda menikmati kisah inspiratif ini, bagikan artikel ini kepada keluarga, sahabat, dan komunitas Anda. Semakin banyak yang mengenal panahan tradisional, semakin besar pula semangat untuk melestarikan budaya sekaligus membangun generasi yang kuat, fokus, dan penuh percaya diri.




Pingback: Club Panahan Ini Diam-Diam Punya Cara Unik Menyatukan Keluarga. Apakah itu? – Laskar Cokrokertopati Archery