
Pernahkah Anda membayangkan anak usia 11 tahun, kelas 6 SD, berani berangkat jauh sendirian ke ajang nasional tanpa didampingi orang tua? Itulah yang dilakukan oleh Abimanyu Panji Apta Putra Aglar, atau akrab disapa Panji, pegiat panahan tradisional termuda dari Laskar Cokrokertopati Archery (LCA), club memanah Surabaya yang terus mencetak pegiat panahan berbakat. Perjalanannya menuju Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) ke-8 di Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2025 adalah kisah inspiratif tentang keberanian, kemandirian, dan semangat melestarikan olahraga memanah.
|Baca juga kisah Amanah, peraih dua medali FORNAS 2025 dari LCA melalui KLIK LINK INI|
Panji bergabung dengan LCA pada November 2023. Meski tergolong baru di dunia panahan, semangatnya tak kalah dari pegiat panahan tradisional yang senior. Di FORNAS 2025, ia menjadi salah satu dari tiga pegiat panahan tradisional yang mewakili LCA. Keberangkatannya bukan hanya soal bertanding, tapi juga pembuktian bahwa usia muda bukan penghalang untuk berprestasi.
Ibunda Panji, Bu Laras, mengaku perasaannya campur aduk ketika melepas sang putra. “Rasa khawatir pasti ada, tapi karena anaknya sudah tekad berangkat sendiri dan teman-teman pegiat full support, ya bismillah. Antara tega dan nggak tega, tapi harus direlakan demi kebaikan anak sendiri,” tuturnya.
|Baca juga kisah Azzam, pegiat panahan LCA yang berangkat FORNAS dengan uang tabungan sendiri, melalui KLIK LINK INI|
Perjalanan ke NTB menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Panji. Ia belajar mandiri, bertemu atlet dari berbagai daerah, hingga merasakan serunya jalan-jalan ke Mandalika. Saat pertandingan, Panji harus menghadapi angin kencang yang membuat anak panahnya “munting-munting” di udara. Tantangan itu justru membuatnya semakin bersemangat.

Bu Laras bangga, karena bagi keluarganya, keberanian Panji berangkat mandiri sudah merupakan juara tersendiri. “Kami berterima kasih kepada semua wali atlet dan coach yang sudah menjaga Panji selama di sana,” ucapnya.
Tak berhenti di FORNAS NTB, Panji sudah menargetkan diri untuk ikut FORDA tahun depan dan FORNAS tahun 2027. Semangat ini menunjukkan bahwa memanah bagi Panji bukan sekadar olahraga, tapi bagian dari perjalanan hidup yang ingin ia tekuni.
Kisah Panji mengajarkan kita bahwa keberanian, kemandirian, dan tekad bisa membawa Anda sejauh yang Anda mau. Bagikan artikel ini kepada teman dan keluarga, agar semakin banyak generasi muda terinspirasi untuk menekuni panahan tradisional bersama Laskar Cokrokertopati Archery.
Ikuti kami juga pada link berikut ini:




Pingback: Unik Banget: Lomba Panahan Tradisional di Surabaya Ini Bikin Orang Tua Dilatih Anak Sendiri | Laskar Cokrokertopati Archery