Dari Luka Hingga Juara Nasional: Kisah Menggetarkan Amanah, Pemanah Remaja Laskar Cokrokertopati Archery yang Tak Pernah Menyerah

Amanah Dazzle 04
Amanah Dezzle Alia 01

Sabtu pagi, 2 Agustus 2025. Matahari belum terlalu tinggi, tapi semangat anak-anak dari berbagai usia sudah membara di Arena Panahan Yakes, Ketintang, Surabaya. Mereka datang untuk latihan rutin bersama Laskar Cokrokertopati Archery (LCA)—sebuah club memanah Surabaya yang aktif membina pemanah tradisional dari usia TK sampai SMA.

Di antara mereka, ada satu wajah yang tak asing bagi para pegiat panahan tradisional, Amanah Dezzle Alia. Namanya belakangan makin sering terdengar. Bukan hanya karena prestasinya membawa pulang dua medali di ajang Fornas NTB 2025, tapi karena cerita perjuangannya yang benar-benar bikin merinding.

“Aku (pernah) kecelakaan saat latihan rutin. Waktu itu aku memang lagi coba anak panah baru. Nah waktu saya coba beberapa kali sih tidak ada masalah dengan anak panahnya. Saat saya merelease anak panah itu kemungkinan dari dalam sudah ada kerusakan, lalu patah di waktu yang bersamaan dengan release itu tadi. Jadinya sebagian anak panah itu masuk ke sela-sela antara jempol dan jari telunjuk bagian kiri saya.”

Ia harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Tapi yang mengejutkan, Amanah hanya rehat lima hari sebelum kembali ke latihan. Bukan karena terburu-buru, tapi karena ia tahu, kalau terlalu lama, justru rasa trauma yang akan tumbuh.

“Saya sempat masuk rumah sakit selama 1 minggu dan rehat selama 5 hari, lalu langsung lanjut penyesuaian agar tidak semakin trauma.”

Amanah Dezzle Alia 02

Perjalanan menuju Fornas NTB 2025 pun tidak main-main. Amanah menjalani training center (TC) berbulan-bulan, ditambah latihan mandiri minimal empat kali dalam seminggu.

“Saya juga latihan rutin minimal 4 kali dalam seminggu dikarenakan saya bukan tipe orang yang cukup saat TC saja latihannya.”

Tapi ketika waktu pertandingan tiba, rasa tegang tetap menyelinap. Ia mengakui, tekanan itu datang karena ia tahu dirinya mendapat kuota perwakilan—harapan banyak orang ada di pundaknya.

“Vibe yang dibawa saat awal berangkat tentunya ketegangan dan rasa takut akan kekalahan sih. Karenakan saya termasuk orang yang mendapat kuota perwakilan, jadi tentunya saya di-standardkan akan pulang membawa kemenangan meskipun tidak ditargetkan oleh pelatih. Pada saat di sana semua rasanya tidak menyenangkan, mungkin karena ada rasa beban yang terbawa. Namun yang paling menegangkan itu pada saat babak aduan dan bagaimana kita harus cepat tanggap dalam pergerakan angin.”

Amanah bukan hanya kuat secara fisik. Ia juga matang secara mental. Ia pun memberikan pesan untuk “adik-adiknya” di LCA demikian:

“Jangan merasa bangga jika kalian hanya mencapai target skor atau menjadi yang tertinggi di dalam kolam kecil (club). Tapi kalian harus berani keluar dari zona nyaman itu untuk menjadi lebih baik. Jangan lupa untuk memikirkan teknikmu, jangan hanya memikirkan score, karena jika kamu tidak memiliki teknik dan kerja keras yang lebih dari orang-orang lain, kamu tidak akan bisa mencapai target yang baik.”

Di balik kegigihan Amanah, ada peran besar dari orangtuanya. Ibunya, Bu Sandra, berbagi bagaimana keluarga terus memberikan dukungan agar Amanah tetap semangat.

“Ya namanya orangtua pasti selalu mendoakan anaknya, dan terus memotivasi anak, terutama saat anak merasa sedang jenuh, capek untuk latihan. Pintar-pintarnya orangtua menyiasati gimana caranya supaya bisa tetap latihan secara rutin. Saat anak sedang capek ya cukup latihan di rumah aja, tidak harus datang jauh-jauh ke lapangan, yang penting anaknya tetap berlatih. Dan yang jelas selalu siap menjadi ojek kemanapun anak mau latihan 😄.”

Amanah membuktikan, bahwa luka bukan alasan untuk berhenti. Justru dari luka itulah semangat ditempa, ketangguhan dibentuk, dan prestasi dicapai. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan LCA, kisah Amanah jadi panutan bahwa keberhasilan bukan soal bakat semata, tapi juga soal keberanian untuk bangkit, latihan yang konsisten, dan keluarga yang mendukung sepenuh hati.

Bagikan kisah ini kepada siapa pun yang Anda rasa sedang butuh semangat. Mungkin saja, hari ini Anda menginspirasi seseorang untuk tidak menyerah.

Follow kami di:

3 komentar untuk “Dari Luka Hingga Juara Nasional: Kisah Menggetarkan Amanah, Pemanah Remaja Laskar Cokrokertopati Archery yang Tak Pernah Menyerah”

  1. Pingback: Azzam, Remaja Surabaya yang Rela Nabung demi Ikut FORNAS — Kisah Inspiratif dari Arena Panahan Tradisional | Laskar Cokrokertopati Archery

  2. Pingback: Anak SD Ini Lawan Angin Kencang di FORNAS NTB: Panji, Pegiat Panahan Termuda LCA | Laskar Cokrokertopati Archery

  3. Pingback: Karakter Yang Terbentuk Di Garis Tembak: Belajar Dari Sang Juara Nasional dari LCA | Laskar Cokrokertopati Archery

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top

Eksplorasi konten lain dari Laskar Cokrokertopati Archery

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca