
Suasana Gladen Alit Antar Pelajar ke-IV terasa berbeda sejak pagi. Lapangan Parkir SD Mumtaz, Sepanjang, Sidoarjo, pada 17 Februari 2026 berubah menjadi arena penuh semangat, senyum, dan ketegangan yang menyenangkan. Anda yang hadir di sana akan merasakan satu hal yang kuat: panahan tradisional hidup sebagai ruang belajar karakter, bukan sekadar lomba angka.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Laskar Cokrokertopati Archery sebagai ajang internal pembinaan atlet usia pelajar. Anak-anak bertanding dengan penuh fokus, orang tua setia mendampingi, dan panitia bergerak rapi menjaga ritme acara. Namun di antara sekian panitia GAAP-IV, ada satu sosok yang menyedot perhatian banyak orang.
Namanya Amanah Dazzle Alia, akrab disapa Mbak Amanah. Usianya baru kelas 1 SMA. Prestasinya berbicara lantang. Ia merupakan juara panahan tradisional tingkat nasional yang sukses membawa pulang dua medali pada FORNAS NTB 2025 yang diselenggarakan oleh KORMI. Sebelumnya, Amanah juga menorehkan prestasi di Festival Dolanan Yok / Gladhen Ageng Pasuruan 2024 dan Jember Archery Festival Open 2023.
|| Kunjungi juga berita kemenangan Amanah di ajang Fornas NTB -> KLIK DISINI

Pada GAAP-IV, Amanah memegang tanggung jawab krusial sebagai penanggung jawab pencatatan skor menggunakan aplikasi ManahPro. Lewat perannya, setiap anak dan orang tua dapat memantau pergerakan nilai secara real time. Tugas ini terlihat sederhana dibalik layar laptop, namun di lapangan menghadirkan tantangan nyata.
Pada siang hari, jaringan internet melemah dan aplikasi sempat mengalami gangguan. Situasi mulai terasa menekan. Orang tua bertanya, peserta menunggu, dan panitia lain bersiaga. Di usia yang sering diasosiasikan dengan emosi naik turun, Amanah justru tampil tenang. Ia berkoordinasi dengan panitia, menjelaskan kondisi dengan bahasa yang menenangkan, serta memastikan data tetap aman dan tercatat.
Ketegarannya ini membuat para orang tua bisa paham dan memaklumi. Panahan tradisional seolah telah menempa mental Amanah lewat ratusan pertandingan yang ia jalani. Tekanan demi tekanan menjadi ruang latihan karakter.
Di sela tugasnya, Amanah sempat memperhatikan anak-anak yang berlomba. Setelah tugas selesai, para bunda menghampirinya. Mereka bertanya tentang teknik memanah, cara mendampingi anak, hingga bagaimana menjaga semangat latihan. Amanah melayani satu per satu dengan bahasa sederhana dan empati yang matang.

Usai kegiatan, Amanah berbagi pandangan lewat wawancara.
Menurutnya, GAAP-IV memberi manfaat besar bagi anak-anak LCA. Melalui lomba seperti ini, mereka mampu mengukur perkembangan diri, keberanian, dan mental bertanding. Panahan bagi Amanah bukan hanya soal hasil latihan, melainkan soal keberanian berdiri di garis tembak dengan keyakinan penuh.
Saat ditanya tentang peluang prestasi ke jenjang lebih tinggi, Amanah menyebut GAAP-IV sebagai batu loncatan. Banyak atlet besar lahir dari turnamen lokal. Jam terbang, portofolio prestasi, serta pengalaman bertanding menjadi bekal menuju jalur prestasi pendidikan dan kompetisi yang lebih luas.
Yang paling menarik muncul saat Amanah menceritakan perubahan karakternya. Sebelum menekuni panahan, ia merasa kurang disiplin, kurang percaya diri, dan sulit mengambil keputusan. Panahan mengubah segalanya. Setiap tarikan busur menuntut keyakinan, ketenangan, dan kendali diri. Proses inilah yang membentuknya menjadi pribadi lebih terorganisir, berani melangkah, dan peka terhadap lingkungan.
GAAP-IV akhirnya membuktikan satu hal penting. Di balik setiap anak yang bertanding, ada proses panjang pembentukan karakter. Di balik setiap panitia muda yang tenang, ada latihan mental yang konsisten. Jika kisah ini memberi Anda sudut pandang baru tentang panahan tradisional, bagikan artikel ini agar semakin banyak keluarga merasakan energi positif dari Laskar Cokrokertopati Archery.
Follow:




Pingback: Orang Tua Ikut Naik Kelas | Laskar Cokrokertopati Archery