
Panahan sering disebut olahraga fokus dan kesabaran. Namun Anda akan menemukan definisi yang jauh lebih berani ketika menyaksikan bagaimana Laskar Cokrokertopati Archery menghidupkan panahan sebagai ruang belajar keluarga. Di Gladen Alit Antar Pelajar ke-IV, anak-anak berlomba dengan penuh semangat, sementara para orang tua berdiri sejajar di garis tembak, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai peserta.
Event Gladen Alit Antar Pelajar ke-IV digelar pada 17 Februari 2026 di Lapangan Parkir SD Mumtaz. Lapangan parkir sederhana itu berubah menjadi arena penuh cerita. Suasana terasa hangat, riuh, dan sangat manusiawi. Panahan di sini terasa dekat, membumi, dan penuh makna.
Daya tarik utama datang dari dua kategori unik: Dewasa Putra jarak 15 meter dan Dewasa Putri jarak 10 meter. Pesertanya para ayah dan ibu yang selama ini setia mengantar anak latihan. Banyak dari mereka baru memanah beberapa kali. Namun justru keberanian itulah yang menjadi pesan kuat bagi anak-anak.

Bu Andam, juara pertama Dewasa Putri, bercerita bahwa keikutsertaannya berawal dari keinginan sederhana. Ia telah bergabung dengan LCA sekitar dua setengah tahun. Bukan demi prestasi pribadi, melainkan demi memberi contoh pada Khayla, putrinya.
Baginya, memanah menjadi cara menunjukkan bahwa kata “tidak bisa” mampu berubah menjadi “bisa” ketika ada niat dan kesungguhan latihan. Ia ingin anak melihat langsung, bahwa orang tua pun berani belajar dari nol.
Cerita berbeda datang dari Mas Gusti, juara pertama Dewasa Putra. Ia baru mengenal panahan sekitar dua bulan sebelum lomba, tepatnya sejak awal Januari 2026. Alasan awalnya sederhana, menjalankan sunnah Rasulullah.
Mas Gusti mengaku sama sekali belum membayangkan berdiri di podium. Pengalaman pertamanya mengikuti lomba justru menjadi momen yang membuka mata, bahwa niat baik dan keberanian mencoba mampu membawa hasil yang mengejutkan.
Bu Fitri, juara kedua Dewasa Putri, menghadirkan kisah yang membuat banyak orang tersenyum. Ia mengaku sama sekali belum pernah latihan sebelum perlombaan. Pendaftarannya pun dilakukan secara spontan.
Namun selama mendampingi Yusuf latihan, ia sempat mengamati teknik memanah. Saat hari lomba, ia ditemani Mira, sementara Yusuf mendampingi ayahnya yang juga berlomba di jarak 20 meter.
Reaksi Yusuf dan Mira ketika sang ibu naik podium pun terasa jujur dan polos. Mereka sama sekali belum membayangkan ibunya membawa pulang prestasi.

Pak Okta, juara kedua Dewasa Putra, memanah dengan niat yang sangat jelas. Ia jarang berlatih, hanya sesekali mencoba ketika mengantar Omar latihan. Ia mengikuti lomba bukan demi menang, melainkan demi memberi contoh.
Menurutnya, ketika ayah berani ikut lomba dengan penuh semangat, anak pun terdorong memiliki semangat serupa. Ia bahkan mengaku terkejut saat namanya dipanggil sebagai juara.
Kisah emosional datang dari Kak Nitnit, juara ketiga Dewasa Putri. Ia sempat menjalani latihan kilat, bahkan dilatih langsung oleh Omar, anaknya sendiri. Arahan tambahan dari pelatih LCA pun menjadi bekal penting.
Saat menerima medali, perasaan campur aduk muncul. Ia dan suaminya sama-sama meraih podium, sementara Omar belum bertanding. Ada rasa berat, harap, dan doa agar sang anak juga mendapat hasil terbaik. Rasa syukur pun datang ketika Omar akhirnya meraih juara di kategorinya.
Pak Nazar, juara ketiga Dewasa Putra, juga mengaku hampir tanpa persiapan. Ia hanya sempat mencoba memanah dua kali di sesi latihan mingguan. Respons Atharazka, putranya, justru menjadi hadiah tersendiri.
Rasa kagum, antusias, hingga candaan ringan di latihan berikutnya menjadi bukti bahwa kemenangan orang tua mampu memantik motivasi anak dengan cara yang menyenangkan.
Gladen Alit Antar Pelajar ke-IV menghadirkan satu pemandangan langka: satu keluarga berdiri di podium bersama. Pak Okta, Kak Nitnit, dan Omar menjadi simbol bahwa panahan di LCA tumbuh sebagai perjalanan keluarga, bukan sekadar kompetisi.
Melalui kegiatan ini, Laskar Cokrokertopati Archery menunjukkan bahwa panahan tradisional mampu menjadi ruang belajar karakter, keberanian, dan kebersamaan. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan Anda, bagikan artikel ini agar semakin banyak keluarga tergerak tumbuh bersama di garis tembak yang sama. 🎯




Pingback: Karakter Yang Terbentuk Di Garis Tembak: Belajar Dari Sang Juara Nasional dari LCA | Laskar Cokrokertopati Archery