
Awal tahun 2026 bagi Laskar Cokrokertopati Archery terasa seperti reuni kecil penuh energi, tawa, dan semangat baru. Arena Memanah Yakes Ketintang, Surabaya, kembali hidup pada Sabtu–Minggu, 3–4 Januari 2026, saat puluhan anak dari jenjang TK hingga SMP berkumpul dalam latihan perdana tahun 2026. Sejak langkah pertama memasuki arena, Anda langsung merasakan aura khas club panahan tradisional Surabaya yang satu ini. Hangat, ramai, dan penuh antusias.
Meski beberapa pekan sebelumnya para pegiat muda LCA baru saja bertemu dalam sesi latihan dan pertandingan di Pasuruan, suasana latihan perdana ini tetap terasa istimewa. Anak-anak saling menyapa, berbagi cerita, dan tertawa lepas seolah lama berpisah. Bagi mereka, arena memanah selalu menjadi ruang aman untuk tumbuh, belajar, dan bersenang-senang bersama. | Baca juga: Ketika Arek-arek Suroboyo Melawan Panasnya Pasuruan: Dari Kereta Pagi Hingga Podium Gladhen Panahan Pelajar Se-Jawa Timur 2025

Seperti tradisi yang terus dijaga, sesi latihan diawali dengan doa bersama. Barisan kecil para pemanah muda berdiri rapi, memusatkan pikiran, lalu dilanjutkan dengan pemanasan. Gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh kesadaran, membangun kesiapan fisik dan mental sebelum anak panah melesat. Inilah wajah panahan tradisional yang terus dirawat oleh Laskar Cokrokertopati Archery: disiplin, kebersamaan, dan keceriaan berjalan beriringan.
Puncak kemeriahan terjadi menjelang akhir sesi, saat Pak Sugeng selaku pelatih utama LCA melontarkan sebuah tantangan yang langsung menyulut adrenalin. Aturannya sederhana namun menantang: setiap peserta hanya memegang dua anak panah, waktu singkat, dan hanya target tengah yang dianggap berhasil. Tantangan ini diikuti seluruh anak, dari yang baru belajar memanah hingga yang sudah berpengalaman mengikuti pertandingan.

Arena pun berubah menjadi lautan sorak sorai. Ketika satu anak panah menancap tepat di tengah, suara tepuk tangan dan teriakan semangat menggema. Saat dua anak panah bertemu di titik yang sama, decak kagum terdengar dari segala arah. Bahkan ketika ada anak panah yang terdesak hingga jatuh, tawa dan dukungan tetap mengalir. Suasana ini menjadi bukti bahwa memanah di LCA selalu menghadirkan kegembiraan, bukan sekadar angka skor.
Latihan perdana tahun 2026 terasa semakin lengkap saat anak-anak mulai beristirahat. Di momen inilah para orang tua mengambil peran, mengikuti sesi adu ketangkasan memanah. Anak-anak yang duduk di pinggir lapangan mendadak berubah menjadi coach dadakan, memberi arahan penuh semangat kepada ayah dan bundanya masing-masing. Para orang tua pun memanah sambil tertawa, menikmati momen kebersamaan yang terasa seperti bermain bersama teman lama. Inilah wajah club memanah Surabaya yang menjadikan keluarga sebagai bagian dari perjalanan.
Tantangan memanah pun melahirkan para pemenang yang patut diapresiasi. Pada Sabtu, 3 Januari, Almeyra tampil gemilang di jarak 7 meter, Zayra menunjukkan konsistensi di jarak 10 meter, dan Mirza menguasai jarak 15 meter. Keesokan harinya, Minggu 4 Januari, Arkha Naufal menjadi yang terbaik di jarak 7 meter, Zayra kembali bersinar di jarak 10 meter bersama Raffa, sementara Farrel dan Realyta berbagi sorotan di jarak 15 meter. Untuk jarak 20 meter, Danish menunjukkan performa yang mengesankan.

Lebih dari sekadar latihan, kegiatan ini menjadi penanda awal tahun yang sarat makna. Anak-anak belajar fokus, sportivitas, dan keberanian. Orang tua merasakan kebahagiaan menyaksikan tumbuhnya karakter anak melalui panahan tradisional. Laskar Cokrokertopati Archery kembali menegaskan perannya sebagai club panahan Surabaya yang konsisten menghidupkan nilai kebersamaan, semangat, dan kegembiraan.
Latihan perdana 2026 membuktikan bahwa memanah selalu menghadirkan cerita menarik, dari sorak anak-anak hingga tawa orang tua. Bagikan kisah inspiratif ini kepada sahabat dan keluarga Anda, agar semakin banyak yang mengenal hangatnya kebersamaan dan semangat positif dari Laskar Cokrokertopati Archery.



