Melintasi Lautan Demi Sunah Rasul: Perjalanan LCA Surabaya Ini Akan Mengubah Cara Anda Melihat Panahan

Fornas TNB LCA 04
Fornas NTB LCA 01
Amanah, Panji, dan Azzam sesaat sebelum bertolak ke Mataram, NTB.

Apakah Anda pernah membayangkan betapa besar pengorbanan dan semangat yang harus dimiliki untuk mengikuti ajang olahraga tingkat nasional? Bukan hanya soal kompetisi, tapi tentang nilai perjuangan, kebersamaan, dan tekad dalam melestarikan warisan budaya. Inilah yang tercermin dari perjalanan luar biasa para pegiat panahan tradisional dari Laskar Cokrokertopati Archery (LCA), club panahan Surabaya, menuju ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) ke-8 di Mataram, NTB.

Kisah nyata dari perjuangan ini seolah menjadi catatan emas dalam sejarah club memanah Surabaya yang konsisten menjunjung nilai-nilai luhur dalam olahraga. FORNAS bukan sekadar perlombaan, tapi juga ajang bertemu dan menyatukan semangat para pelestari budaya dari berbagai penjuru Indonesia.

Perjuangan yang Tak Biasa: Menembus Macet dan Lintas Laut

Pak Sugeng Anto, pelatih utama LCA, menjadi sosok pembuka perjalanan ini. Ia berangkat lebih dulu pada Jumat pagi, 25 Juli 2025, sendirian, melalui jalur darat menggunakan bus umum. Perjalanan tidak mudah. Ia harus menembus kemacetan parah di Banyuwangi akibat penutupan jalur Gunung Kumitir. Meski begitu, semangatnya tidak surut. Ia akhirnya tiba dengan selamat di kota Mataram pada Sabtu sore, 26 Juli 2025. Semua ini demi mendampingi anak-anak didiknya dalam membawa nama baik LCA di ajang nasional.

Sementara itu, Azzam, Amanah, dan Panji, tiga pegiat panahan cilik dari LCA, berangkat bersama rombongan pegiat panahan tradisional Jawa Timur menggunakan kapal Kirana 7 dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Mereka berlayar selama lebih dari satu hari dan tiba di Mataram pada Minggu, 27 Juli 2025. Mereka didampingi oleh bu Sandra, ibunda Amanah, yang penuh semangat dan mengabadikan momen keceriaan selama di kapal.

“Alhamdulillah… gembira pak,” ujar bu Sandra sambil mengirimkan video anak-anak yang riang bermain dan bersosialisasi di atas kapal.

Fornas NTB LCA 02
Azzam, Amanah dan Panji berfoto bersama seluruh kontingen dari Surabaya sesaat setelah berlabuh di Lembar

Kisah Ibu-Ibu Hebat di Balik Keberangkatan Para Pemanah Cilik

Tak hanya anak-anak dan pelatih yang layak diacungi jempol, para orang tua mereka pun punya kisah luar biasa. Bu Laras, bundanya Panji, dengan penuh keteguhan hati merelakan anaknya pergi jauh untuk pertama kalinya tanpa orang tua dan bukan dalam rangka kegiatan Sekolah.

“Yaa….. Rasa khawatir itu pasti ada, tapi karena anaknya sudah tekad berangkat sendri, dan teman-teman sesama pegiat juga full support ke Panji. Jadi bissmillah niat utama melestarikan sunah rasul bisa terlaksana. Ya antara tega ga tega sebenarnya tapi harus direlakan demi kebaikan si anak sendri. Sejak kecil dibiasakn mandiri dan pasrahkan semua kepadaNya. Klo masalah menang itu bonus. Pembiasaan hal-hal baik sejak kecil dan pembentukan mental itu yg terpenting.” ucapnya penuh haru.

Hal serupa juga dirasakan oleh bu Naning, istri Pak Sugeng sekaligus ibunda Azzam. Meski galau karena perjalanan ini adalah yang paling jauh dan harus menyeberangi laut, ia tetap yakin.

“Kalau Azzam, sejak SD sudah pernah ke Madiun sendiri. Ke rumah budhenya. Lalu SMP mondok. Dan sekarang SMK di Malang. Jadi sudah biasa ke luar kota sendiri. Bahkan naik gunung sama teman2nya ataupun sendirian sudah biasa. Alhamdulillah saya percaya Azzam bisa jaga diri dengan baik”. ujarnya.

LCA: Bukan Sekadar Club Panahan, Tapi Keluarga

Laskar Cokrokertopati Archery (LCA) bukan sekadar club memanah biasa. Di sinilah anak-anak belajar tentang adab, keberanian, ketepatan, dan juga tanggung jawab. Dari anak usia TK hingga remaja SMA, semua mendapat porsi pembinaan yang tidak hanya mengasah teknik memanah, tetapi juga pembentukan karakter.

Melalui ajang seperti FORNAS, LCA tidak hanya memperkenalkan olahraga panahan tradisional ke khalayak luas, tetapi juga membuktikan bahwa semangat dan nilai-nilai luhur bisa dibawa hingga ke tingkat nasional.

Harapan dan Doa untuk Kontingen LCA

Azzam, Amanah, dan Panji dijadwalkan bertanding pada 29–30 Juli 2025. Mari kita doakan agar mereka diberi kelancaran, keselamatan, dan keberkahan selama mengikuti pertandingan. Kemenangan memang menjadi harapan, namun proses, mentalitas, dan nilai kebersamaan jauh lebih utama. Karena kebanggaan ini bukan hanya milik mereka, tetapi milik kita semua—keluarga besar LCA, dan masyarakat yang peduli pada pelestarian budaya.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan semangat luar biasa para pemanah muda ini, yuk bagikan artikel ini ke orang-orang terdekat. Jadikan semangat LCA sebagai inspirasi bahwa nilai luhur dan kebudayaan bisa terus hidup melalui generasi muda.

Follow instagram LCA: |KLIK DISINI|
Chat admin LCA: |KLIK DISINI|

1 komentar untuk “Melintasi Lautan Demi Sunah Rasul: Perjalanan LCA Surabaya Ini Akan Mengubah Cara Anda Melihat Panahan”

  1. Pingback: Baru Umur Belasan, Anak-anak Ini Bikin Jawa Timur Bangga di Kancah Nasional | Laskar Cokrokertopati Archery

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top

Eksplorasi konten lain dari Laskar Cokrokertopati Archery

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca